Jangan Sampai Anak Kehilangan Ayah,
Saat Ayah Masih Ada
Fatherless bukan selalu tentang ayah yang pergi. Kadang, tentang ayah yang ada, tetapi tidak benar-benar hadir.
Banyak ayah merasa sudah menjalankan kewajibannya.
Dan semua itu memang penting. Tetapi apakah itu sudah cukup?
Apakah anak kita benar-benar merasakan kehadiran Ayah?
Suatu hari nanti, anak Anda mungkin bertanya:
“Ayah, Kenapa Dulu Ayah Tidak Pernah Benar-Benar Ada Buat Aku?”
Dan mungkin…
saat itu sudah terlambat untuk mengulang masa kecil mereka.
Dan pertanyaan itu mungkin muncul ketika semuanya sudah terlambat untuk diulang. Ketika anak masih kecil, mereka mungkin hanya membutuhkan Ayah untuk:
Dunia makin kompetitif dan serba tidak pasti. Volatile, uncertain, complex, ambiguous (VUCA). Tanpa pondasi kuat, anak gampang jatuh dan terinjak oleh keadaan.
Maka anak perlu pondasi serta tumbuh kuat dalam:
- Jiwa (spiritual-kultural/spiritual intelligence-SQ)
- Raga (fisikal-mental/adversity intelligence-AQ)
- Perasaan (emosi-sosial/emotional intelligence-EQ)
- Pikiran (intelektual/intellectual intelligence-IQ)
Parenting parsial oleh ibu untuk mengelola emosi atau perasaan saja tidak cukup.
Perlu parenting holistik dengan kehadiran ayah untuk mengola jiwa, raga, perasaan dan pikiran secara utuh.
Lalu apakah Ayah sudah dampingi anak untuk:
- Menguatkan jiwa, membuat anak tentram serta yakin & cinta Tuhan?
- Menguatkan raga, membuat anak sehat, kuat, dan berdaya juang?
- Menguatkan perasaan, membuat anak matang emosi dan pandai jaga relasi?
- Menguatkan pikiran, membuat anak jernih dan tajam pikiran?
Hanya dengan kehangatan ibu saja tanpa kehadiran ayah yang memberdayakan secara utuh, fenomena fatherless anak tidak terhindarkan.
Anak akan menjadi ‘pribadi rapuh yang mudah jatuh dan terinjak’ tersebut.
- Jiwa resah, jauh dari tentram dan tak merasa dekat Tuhan.
- Fisik-mental tidak sehat dan kuat, daya juang dan daya tahan (resiliensi) lemah.
- Emosi labil, mudah depresi, tak pandai kelola relasi, krisis identitas, butuh validasi peer, hingga rentan adiksi dan terseret masalah berbahaya.
- Daya pikir lemah, akal sehat tidak berjalan, mudah terdistraksi dan termakan hoax.
Apakah ayah akan membiarkan saja, dan terlambat menyadari hanya setelah anak terjerat masalah saat remaja atau dewasa?
Kabar Baiknya: Menjadi Ayah yang Hadir dengan Parenting Holistik Bisa Dipelajari.
Parenting Holistik by Ayah mengajak orang tua, khususnya ayah, untuk dapat mengantarkan anak kuat dalam jiwa, raga, perasaan dan pikiran secara utuh. Dua kunci akan memudahkan anak meraih sukses dan bahagia sesuai potensi masing-masing.
- Pertama, menggunakan SIFAT NABI (Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah) untuk menguatkan kecerdasan holistik anak
- Kedua, kehadiran ayah yang berdaya dan bahagia meskipun ayah belum sempurna bahkan masih menanggung tak sedikit masalah.
Nabi adalah Manusia Teladan. Mari pelajari dan teladani Sifat Nabi
jika ingin anak sukses dan bahagia.
Meneladani dan mengajarkan Sifat Nabi akan membantu pengembangan seluruh kecerdasan anak, hingga membangkitkan seluruh potensi dirinya.
- Siddiq menguatkan daya spiritual kultural (SQ)
- Amanah menguatkan daya fisikal-mental (AQ)
- Tabligh menguatkan daya emosi-sosial (EQ)
- Fathonah menguatkan daya intelektual (IQ)
Ketika SQ, AQ, EQ, dan IQ berkembang optimal, anak akan menjadi pribadi yang kuat lahir batin serta mudah menggapai sukses dan bahagia sesuai potensi masing-masing.
Ayah boleh tidak sempurna, tetapi ayah tetaplah role model bagi anak-anaknya.
Parenting oleh ayah bukan hanya menyegarkan dan mengusir rasa lelah, namun juga akan melejitkan kapasitas dirinya hingga menjadi lebih baik dalam penghidupannya.
- Ayah baru mengalami neuroplasticity pada otak.
- Ayah menata mindset anak dengan keteladanan.
- Ayah memimpin & memberdayakan secara asertif (lembut-tegas).
- Ayah menanamkan jangkar nilai parenting keluarga.
- Ayah menjalankan empat hal esensial dalam parenting.
Hasilnya, kapasitas diri anak bertumbuh. Kapasitas diri ayah pun berkembang hingga kerja dan karir ayah juga akan lebih baik.
Mentor
Dr. Zaim Uchrowi, MDM
Penulis & Mentor Parenting Holistik
Bagi saya, menekuni Parenting Holistik by Ayah adalah amanah. Di fase post parenting ini, tugas hadir membersamai anak sudah selesai. Anak-anak alhamdulillah telah menjadi ahli digital anthropology dan artificial intelligence setelah menempuh program doktor di universitas ternama di Inggris dan Jepang melalui bea siswa.
Saya penulis & pelaku pengembangan karakter, berpengalaman sebagai Redaktur Tempo, Pemimpin Redaksi Republika, Direktur Utama Balai Pustaka, Ketua Dewan Pengawas LKBN Antara, dan dosen Pascasarjana IPB Unversity. Saya mendalami komunikasi, pengembangan karakter, pendidikan, manajemen, kepemimpinan, spiritualitas, NLP hingga coaching. Maka holistik menjadi pendekatan parenting ini. Apalagi fitrah manusia memang holistik.”
Sejumlah buku saya tulis, antara lain:
Muhammad Sang Teladan, Memimpin dengan Nurani, Karakter Pancasila, Sukses Itu Mudah, Paradigma Pendidikan Humanistik, Parenting Holistik by Ayah (dalam proses), Holistic Character (Kata Pengantar).
Saripati buku-buku itu tertuang dalam program-program Parenting Holistik by Ayah ini.
Program PARENTING HOLISTIK by AYAH
- Kajian terbuka Parenting Holistik by Ayah setiap pekan (Kamis, pukul 16.00 WIB)
- Pelatihan secara daring (online)
- Pelatihan secara luring (offline)
- Mentoring & Coaching parenting
- Mentoring & Coaching Keluarga Sakinah
- Mentoring & Coaching Karakter Sukses Anak
Foto Galeri
Kegiatan Parenting Holistik by Ayah
Update Artikel
Temukan berbagai artikel, wawasan, dan informasi seputar parenting holistik dan lain-lain




